Kilas balik sejarah Seksama bersama Y.B. Priyanahadi (kiri) dan Romo John Tondowidjojo CM (kanan).

Setelah Rapim tahun 2007 di Samadi Klender, Jakarta Timur, Seksama mengalami kevakuman. Karena inisiatif beberapa orang muda yang bersemangat, pada 28-29 Oktober 2011 Rapim Seksama kembali diadakan di Susteran Dominikanes, Maguwoharjo, Yogyakarta. Seksama bangkit kembali. Rapim diikuti lengkap oleh tujuh pimpinan penerbit anggota. Forum menghadirkan dua pembicara penting, yaitu Bapak Y.B. Priyanahadi dan Romo John Tondowidjojo, CM . Kedua pembicara adalah saksi sekaligus pelaku sejarah kelahiran dan pertumbuhan Seksama. Para peserta diajak untuk mengadakan kilas-balik atas keberadaan Seksama.

Berbagai langkah dan kegiatan bersama ingin dihidupkan lagi untuk mengampanyekan pentingnya “kerasulan buku” bagi kehidupan menggereja. Seksama harus dapat berperan mendorong Gereja Katolik Indonesia dari “Gereja yang (hanya) Mendengarkan”, menjadi “Gereja yang Membaca”juga, karena dengan membaca (buku-buku rohani berkualitas) akan terbangun Gereja yang beriman mendalam, berpengetahuan luas, dan berjiwa misioner.

Untuk tujuan mulia tersebut, Seksama tak dapat sendirian. Harus ada dukungan yang kuat dari Hierarki. Seksama membutuhkan Hierarki untuk sanggup melaksanakan tugas perutusan & kerasulan di bidang media komunikasi melalui buku-buku rohani. Sebaliknya, Hierarki juga membutuhkan Seksama (sebagai perpanjangan tangannya) untuk menyiapkan berbagai buku yang dibutuhkannya dalam tugas penggembalaannya.

Dikutip dari: https://membumikanide.com/2013/12/06/25-tahun-seksama-50-tahun-inter-mirifika/

Kategori: Berita